Postingan

Membawa Tuhan ke Meja Persidangan: Sebuah Renungan

      Membawa Tuhan ke  Meja Persidangan Renungan tentang Hasrat Manusia yang Suka Mengatur Ilahi Ketika di suatu pagi Anda terbangun dari mimpi yang indah: Anda tersadar. Anda telah masuk pada dunia kehidupan—dunia ‘nyata’. Kehidupan yang dikenal dengan masalah-masalahnya, pun dengan segala keindahan dan kenikmatannya. Anda berpikir untuk tidur kembali, masuk pada dunia mimpi yang indah, yang tidak nyata. Tetapi tidak bisa. Sekarang sudah pukul 6. 12 dan Anda belum juga beranjak dari kasur bau Anda. Sistem kehidupan manusia telah menuntut Anda untuk pergi sekolah/bekerja. Tetapi saya asumsikan Anda adalah seorang pekerja. Anda masih di kasur bau Anda yang nyaman. Masih lelah— burnout mungkin—dengan sisa-sisa kejadian kemarin, dan kemarinnya lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi dan masalah yang masih terpampang di depan wajah Anda yang belum usai—begitu seterusnya, percayalah. Semua keputusan berada pada diri Anda, Anda sela...

Filsafat Bukan Kata-Kata Mutiara

Filsafat Bukan Kata-Kata Mutiara Oleh Charles Muljadi Di suatu pagi yang suram, saya terbangunkan oleh alarm handphone secara tak mengenakan. Saya masih di tempat tidur untuk beberapa detik, melihat langit-langit dan, akhirnya, berkata pada diri saya sendiri: “Pagi yang seperti biasanya, sangat merepotkan.” Kemudian saya bergegas mandi dan, pendeknya, saya sudah berada di sekolah, di suatu pagi di waktu istirahat pertama sekitar jam 9, bila saya tak salah ingat. Maka kemudian datanglah seorang kawan kepada saya, dia bergumam dan berkata satu-dua hal pada saya dengan gembiranya dan pada akhirnya, kalimat darinya yang saya ingat hanya: “Kata-katanya dong!” setelah ia berkata: “Filsuf,”. Dengan penuh rasa penasaran dan planga-plongo kebingungan, maka saya pun bertanya, “Kata-kata apa?” dan segera ia menjawab, “Kata-kata mutiara atau motivasi, masak ga tau, sih?” Saya akhirnya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa kebingungan. Tetapi kenapa itu terjadi pada saya? ...

NASIONALISME DAN LIBERALISME

  Komentar terhadap Video Esai Prof. Bagus Muljadi tentang Indonesia’s 'Walled Garden' Nasionalisme: Bukan Pagar Pengekang Kita sering kali mendengar pernyataan lantang tentang nasionalisme: "Jika Anda tidak berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, maka Anda tidak nasionalis." Atau, "Jika Anda mengkritik negara sendiri, Anda tidak nasionalis." Bahkan ada yang berpendapat, "Jika Anda meninggalkan Indonesia, Anda tidak nasionalis." Namun, Tuan Puan sekalian, apakah arti nasionalisme sebenarnya sesempit dan sesesak itu? Menurut Prof. Bagus Muljadi, nasionalisme bukanlah pagar yang mengekang. Sebaliknya, nasionalisme adalah perekat yang melindungi ‘ruh’ liberalisme agar dapat tumbuh subur. Nasionalisme tidak boleh menjadi alasan untuk membungkam kritik. Seperti kata beliau, "Pagar tidak boleh memakan tanaman." Liberalisme: Akar Peradaban Masyarakat Apa yan...

KOTA, RUANG PUBLIK, DAN PRIVASI

Gambar
  KOTA, RUANG PUBLIK, DAN PRIVASI DI RUANG PUBLIK       Kota bisa kita pahami bukan hanya sebuah kota (sebuah ruang/tempat kaku, individualistik, tempat para kapitalis, kempetitif dan keras), tetapi kota bisa kita pahami dalam cara pandang lain. Yaitu , sebuah ruang atau tempat kehidupan, ruang dan tempat bercerita dan berbagi pengalaman. Sebuah ruang yang terbuka untuk publik, maka oleh karena itu kota yang bagus memiliki ruang publik (public space) yang bagus pula. Dari ruang publik yang bagus itu, kita bisa mengapresiasi tata kelola kota dengan lebih nyaman dan leluasa. Capek pulang kerja, kita bisa pergi keluar untuk berjalan kaki, menghirup udara segar sembari bersyukur bahwa kita masih bisa hidup dan bertahan hidup selama ini. Itulah yang menjadi salah satu tolok ukur ruang publik dan kota yang baik (good) . Ia ramah dan liveble. Ia menarik orang-orang pergi keluar, bukan malah mengisolasi mereka di rumah masing-masing. Ia menarik orang-orang berbondong-bondong...

Ketika Banjirnya Informasi Menjadi Sebuah Kutukan

Gambar
    KETIKA BANJIRNYA INFORMASI MENJADI SEBUAH KUTUKAN: BRAIN ROT DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI Dahulu kala, ketika kita menginginkan suatu informasi, maka kita perlu mengeluarkan suatu pengorbanan; pergi ke perpustakaan, pergi ke warnet hanya untuk googling , mempelajari bahasa asing (bahasa Inggris terutama) karena informasi yang menggunakan bahasa Indonesia masih sangatlah terbatas kala itu.      Namun tak demikian untuk hari ini. Ketika informasi itu membanjiri kehidupan kita, maka kita tak bisa mengontrol diri; mana informasi yang relevan, penting, dan darurat untuk saya, kehidupan saya? Pertanyaan itulah yang sulit untuk kita temukan jawabannya hari-hari ini.      Ini menjadi sebuah ironi. Dan orang-orang bilang ini adalah “paradoks akan pilihan”, ketika kita bebas memilih, informasi berserakan di luar sana, dan kita menjadi tak kuasa untuk menangis karena Tuan, Puan, dan saya menjadi bingung untuk memilih yang mana untuk dipilih. ...