NASIONALISME DAN LIBERALISME

 



Komentar terhadap Video Esai Prof. Bagus Muljadi tentang Indonesia’s 'Walled Garden'





Nasionalisme: Bukan Pagar Pengekang


Kita sering kali mendengar pernyataan lantang tentang nasionalisme: "Jika Anda tidak berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, maka Anda tidak nasionalis." Atau, "Jika Anda mengkritik negara sendiri, Anda tidak nasionalis." Bahkan ada yang berpendapat, "Jika Anda meninggalkan Indonesia, Anda tidak nasionalis." Namun, Tuan Puan sekalian, apakah arti nasionalisme sebenarnya sesempit dan sesesak itu?


Menurut Prof. Bagus Muljadi, nasionalisme bukanlah pagar yang mengekang. Sebaliknya, nasionalisme adalah perekat yang melindungi ‘ruh’ liberalisme agar dapat tumbuh subur. Nasionalisme tidak boleh menjadi alasan untuk membungkam kritik. Seperti kata beliau, "Pagar tidak boleh memakan tanaman."




Liberalisme: Akar Peradaban Masyarakat


Apa yang membuat sebuah masyarakat berperadaban? Selain lingkungan yang mendukung, jawabannya terletak pada individu-individu yang "menyimpang secara positif." Albert Einstein pernah berkata dalam bukunya, The World As I See It, "Hal-hal yang bermanfaat—baik secara material, spiritual, maupun moral—pada dasarnya bertumpu pada individu-individu kreatif tertentu dari berbagai generasi yang tak terhitung jumlahnya."


Hanya individu yang berpikir kritis dan inovatif—yang berani menyimpang secara positif—yang mampu menciptakan nilai-nilai baru dan menetapkan standar moral bagi masyarakat. Inilah yang membuat sebuah bangsa berkembang. Oleh karena itu, kesehatan masyarakat sangat bergantung pada kemandirian individu yang membentuknya.


Namun, ini hanya bisa tercapai jika hak individu dihormati dan dilindungi oleh negara. Hak untuk berkreasi, berinovasi, dan berpendapat—bahkan jika pendapat itu kontroversial—adalah fondasi penting bagi kemajuan.


Tentu saja, kebebasan ini tidak berarti kita bisa berbicara atau bertindak semaunya tanpa pertimbangan. Kebebasan kita adalah cerminan kebebasan orang lain. Hak kita juga berarti tanggung jawab untuk tidak mengganggu hak orang lain. Jangan sampai hak kita malah merusak hak orang lain.


Prof. Bagus Muljadi menekankan bahwa penekanan hak individu melahirkan meritokrasi. Namun, meritokrasi juga membawa risiko ketimpangan. Individu-individu yang lebih berbakat atau memiliki akses lebih baik sering kali dianggap lebih layak mendapatkan penghargaan. Ini menciptakan ketidakadilan bagi mereka yang kurang beruntung secara ekonomi, pendidikan, atau akses. Untuk memastikan liberalisme tumbuh subur, dibutuhkan kesetaraan peluang bagi semua.




Nasionalisme sebagai Penuntun Harmoni


Mari kita ingat bahwa kita hidup dalam masyarakat yang kaya akan budaya dan tradisi. Untuk menjaga harmoni dalam keberagaman, diperlukan nasionalisme yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan individu.


Bayangkan liberalisme sebagai hewan-hewan liar yang berkoar-koar di malam hari. Tanpa penuntun, keliaran ini bisa berujung pada kekacauan. Di sinilah peran nasionalisme: sebagai narasi nasional yang memandu liberalisme menuju keharmonian. Liberalisme adalah taman, dan nasionalisme adalah pagar yang melindungi agar taman itu tetap subur.


Namun, pagar ini tidak boleh menjadi dinding yang membatasi. Nasionalisme justru harus menjadi pendorong agar kita bisa "bersinar keluar." Dengan kata lain, nasionalisme sejati adalah yang mendorong kita untuk memberikan kontribusi terbaik bagi dunia.




Sepucuk Kutipan Penutup


Sebagai penutup, mari kita renungkan kutipan puitis dari Prof. Bagus Muljadi:

"Nasionalisme tidak menjadi alasan untuk membungkam kritik. Pagar tidak boleh memakan tanaman."


Nasionalisme bukan malah menjadi batasan, melainkan dorongan untuk maju. Dengan menjaga keseimbangan antara liberalisme dan nasionalisme, kita dapat membangun masyarakat yang maju pula sehat.



Bis später!



Referensi

  1. Muljadi, Bagus. "Indonesia’s Walled Garden." YouTube Video. Retrieved from: https://youtu.be/aXj-ntNfNfk?si=sckiNjk1m5HDum4G

  2. Einstein, Albert. The World As I See It.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KENAPA PACARAN TIDAK HARAM?

Filsafat Bukan Kata-Kata Mutiara

Membawa Tuhan ke Meja Persidangan: Sebuah Renungan