Membawa Tuhan ke Meja Persidangan: Sebuah Renungan

 

 

 

Membawa Tuhan ke

 Meja Persidangan



Renungan tentang Hasrat Manusia yang Suka Mengatur Ilahi




Ketika di suatu pagi Anda terbangun dari mimpi yang indah: Anda tersadar. Anda telah masuk pada dunia kehidupan—dunia ‘nyata’. Kehidupan yang dikenal dengan masalah-masalahnya, pun dengan segala keindahan dan kenikmatannya. Anda berpikir untuk tidur kembali, masuk pada dunia mimpi yang indah, yang tidak nyata. Tetapi tidak bisa. Sekarang sudah pukul 6. 12 dan Anda belum juga beranjak dari kasur bau Anda. Sistem kehidupan manusia telah menuntut Anda untuk pergi sekolah/bekerja. Tetapi saya asumsikan Anda adalah seorang pekerja.

Anda masih di kasur bau Anda yang nyaman. Masih lelah—burnout mungkin—dengan sisa-sisa kejadian kemarin, dan kemarinnya lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi dan masalah yang masih terpampang di depan wajah Anda yang belum usai—begitu seterusnya, percayalah. Semua keputusan berada pada diri Anda, Anda selalu memilih. Dan kali ini Anda, saya asumsikan, memilih untuk pergi bekerja. Pilihan yang bagus! Sebab Anda masih punya hutang pada beberapa teman Anda, Anda masih punya cicilan KPR, kredit motor yang belum lunas dan hubungan sosial yang masih berantakan. Tapi satu hal penting untuk Anda, bahwa Anda sudah membuat progres: kemampuan menejemen emosi Anda sudah lebih baik dari tahun yang sudah-sudah.

Pergi ke kamar mandi, menatap cermin; melihat potret diri sendiri—Anda. Mata yang terlihat dan memang lelah, rambut pendek acak-acakan, dan cileuh masih ada di salah satu mata Anda. Kemudian Anda mengucek kedua mata: sama saja, Anda masih merasa bahwa diri Anda jelek, dan lebih dari itu, Anda merasa telah menjadi manusia yang gagal. Ahhh! Entah sebab apa kemudian Anda merengek: segala bentuk imajinasi buruk datang menyapamu, mereka bernama penderitaan. Penderitaan itu datang dengan rombongan ingatan-ingatan palsu yang membuat Anda makin bersedih, selain ingatan palsu, ada juga campur tangan emosi-emosi negatif (kesedihan yang berlebih, rasa penyesalan entah karena apa, rasa lelah dan keputusasaan), serta dalam detik-detik yang masih berlangsung, Anda marah, ANDA MARAH!

Selesai dari urusan Anda di kamar mandi, kemudian Anda berpakaian, sat-set! Tak sampai 2 menit Anda sudah berpenampilan necis! Mamah Anda pasti bangga pada Anda bila ia masih bersamamu, melihat anaknya berpenampilan necis yang siap berangkat kerja! Meluncur….

Tetapi rasa penderitaan dan amarah itu menyapa Anda kembali, kali ini lebih intens sehingga membuat Anda makin putus asa, Anda memutuskan untuk bolos kerja, mengatakan pada menejer Anda bahwa Anda sedang meriang dan tidak bisa pergi ke kantor sekitar 2 minggu lamanya.

Anda memutuskan untuk membanting tas kerja Anda yang bobotnya bukan main! Pergi dari rumah Anda, dengan keadaan rumah yang belum dikunci, menuju suatu tebing dengan jurang yang amat curam.

Sesampainya di sana, Anda merasa lega dan sebelum mengakhiri keberadaan Anda sendiri, Anda berkata seraya menatap langit:

“Tuhan… kenapa ini terjadi padaku??!!”

“Tuhan, kenapa Engkau… TIDAK BERLAKU ADIL?! KAU SEHARUSNYA TIDAK BEGINI!”

“TUHAN!!! APA KAU TAU APA ITU ADIL?!!… MAKA, BERIKANLAH PADAKU!!”

“KENAPA HARUS ADA PENDERITAAN BERTUBI-TUBI PADAKU??!!!”

“KENAPA UJIAN INI KAU BERIKAN PADAKU SECARA SERENTAK?!!”

Lalu angin senja membasuh, Junaydy kemudian hilang, hilang dari ingatan seluruh manusia yang hidup di Bumi, hilang dari rumahnya, hilang dari Bumi: dengan masalah-masalahnya yang belum ia tuntaskan, dengan amarah lirisnya, hilang beserta tanggung jawabnya yang belum ia selesaikan.

Hilang, hilang, hilang seraya puisi The Second Coming karya William B. Yeats yang menjelma seorang penyair dari Ambon untuk membacakan sabda pada dunia:



Turning and turning in the widening gyre

The falcon cannot hear the falconer;

Things fall apart; the centre cannot hold;

Mere anarchy is loosed upon the world,

The blood-dimmed tide is loosed, and everywhere

The ceremony of innocence is drowned;

The best lack all conviction, while the worst

Are full of passionate intensity.


Surely some revelation is at hand;

Surely the Second Coming is at hand.

The Second Coming! Hardly are those words out.

When a vast image out of Spiritus Mundi

Troubles my sight: somewhere in sands of the desert

A shape with lion body and the head of a man,

A gaze blank and pitiless as the sun,

Is moving its slow thighs, while all about it

Reel shadows of the indignant desert birds.

The darkness drops again; but now I know

That twenty centuries of stony sleep

Were vexed to nightmare by a rocking cradle,

And what rough beast, its hour come round at last,

Slouches towards Bethlehem to be born?




Ya, mari kita berikan doa yang terbaik untuk saudara kita bersama, Junaydy, yang hidup penuh dengan masalah, cobaan dan dalam hari-hari terburuknya, ia mesti bergulat dengan depresi. Dan mungkin karena itulah ia membenci Tuhan, mempertanyakan kemampuan-Nya dan memarahi-Nya: seolah ia hendak mengundang Tuhan ke meja persidangan. Menuntut-Nya, kemudian menghukum-Nya. Sungguh manusia yang edan!

Di saat hidup terasa sulit, penuh cobaan, tidak masuk akal bagi kita, dan terasa bahwa “ini seharusnya tidak begini!” dengan hati yang luka: putus asa, marah, benci, bodo amat akan hidup dan tanggung jawab diri sendiri. Dengan kondisi seperti itu, Anda mungkin mulai bertanya, “kenapa Tuhan berlaku tidak adil padaku?”, beberapa mungkin dengan nada penuh amarah, beberapa dengan nada pesimis dan beberapa dengan nada penuh kekecewaan dan sakit hati. Kemudian terdengar suara dari batin Anda, “Tuhan tidak seharusnya begini.”

Tuan-tuan, dan tentunya juga, puan-puan sekalian, di tulisan kali ini saya tidak akan membahas apa itu Tuhan, apakah Tuhan itu Ada atau apakah Tuhan harus Ada. Tidak! Apa yang akan saya duduk perkarakan di sini adalah hasrat kita untuk mengatur ilahi: mengatakan pada Tuhan yang seharusnya ia lakukan. Seolah kita adalah Tuhan itu sendiri.

 

 

Mengapa Kita Suka Mengatur Ilahi?

Sebagai manusia, tentunya kita senang jika hidup berjalan sesuai dengan rencana dan keinginan. Kita ingin hidup dengan penuh kendali atas apa pun itu. Saya sendiri tidak tahu apakah itu wajar, atau mungkin itu memang wajar. Tetapi ada hal dalam aspek hidup kita ini yang tidak bisa kita genggam dengan sepenuhnya atau tidak sama sekali. Kendati demikian, hasrat untuk menggenggam aspek-aspek yang sifatnya tidak sepenuhnya atau tidak sama sekali dapat digenggam itu masih ada entah dalam bentuk yang lembut-sembunyi-sembunyi atau penuh percaya diri—penuh ambisi.

Lalu hadirlah pertanyaan seperti ini, "Mengapa Tuhan begini?" atau bahkan menyalahkan: "Tuhan seharusnya tidak membiarkan ini terjadi." Pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul bukan hanya dari rasa sakit, kecewa, tapi juga dari kebiasaan zaman: budaya modern yang ingin segala hal bisa dijelaskan dan dikendalikan (dalam perspektif saya).

Kita hidup di masa ketika hampir semua hal bisa diatur: waktu, rencana. Maka, ketika ada sesuatu yang di luar kendali—kematian mendadak, musibah, kegagalan, atau ketidakadilan—kita pun kecewa, merasa telah gagal dengan perasaan bahwa kita adalah seorang pecundang yang tak pantas hidup di kosmos yang luar biasa luasnya ini. Maka pelarian emosional itu kita adukan pada Tuhan, kita menuntut Tuhan: memintanya mengganti rugi (dengan menjawab segala pertanyaan atas dasar kebiasaan kita yang ingin segalanya dapat kita kendalikan) atas apa yang telah terjadi pada kita (yang tidak enak-enaknya saja). Kita ingin Tuhan mengikuti logika dan nilai-nilai yang kita buat sendiri. Kita merasa tidak butuh Tuhan yang tidak bisa mengikuti logika, nilai-nilai dan keinginan kita. Bahkan dalam doa dan ibadah, kita tidak selalu datang untuk berserah, tapi kadang untuk menuntut, menuntut setiap permintaan dan keinginan yang belum terwujud.

Doa berubah menjadi daftar permintaan: "Tuhan, saya sudah berbuat baik, maka beri saya pahala dengan berlipat ganda agar saya bisa masuk surga agar saya bisa bertemu dengan bidadari manis dan segala macam kenikmatannya", “Tuhan, saya ingin ini dan itu pada waktu ini dan detailnya begini.” Ibadah pun bisa jadi seperti transaksi: semakin rajin kita beribadah, semakin besar harapan agar Tuhan membalasnya dengan kesehatan, atau kebahagiaan: mewujudkan segala daftar permintaan kita. 

Sering kali, kita tidak benar-benar menyembah Tuhan. Kita hanya menyembah bayangan Tuhan yang kita bentuk sendiri—Tuhan yang sesuai dengan keinginan dan moral kita, Tuhan yang tidak pernah menyusahkan kita, Tuhan yang selalu bisa "dipanggil" ketika kita butuh. Ini bukan iman, tapi proyeksi diri. Kita ingin Tuhan menjadi seperti yang kita bayangkan—sebuah narsistik sempurna—bukan seperti Ia apa adanya. Kita menyembah diri kita sendiri yang kita bayangkan sendiri sebagai sesuatu yang 'sempurna' bagi diri kita sendiri.



Apa yang Salah dari Mengatur Ilahi?

Apaan, sih, ni orang sok banget!! Si paling religius deh lu!!” 

Tepat di situlah poinnya: tidak ada yang salah dari bertanya atas dasar ekspresi jujur kita pada Tuhan sembari tetap berserah dan berpaut pada-Nya, dengan kata lain, niat dan asal dari pertanyaan dan, mungkin, gugatan itulah poinnya.

Ada seseorang yang bertanya hal-hal seperti: “Kenapa Tuhan diam ketika kejahatan merajalela?”, “Kenapa orang baik selalu tertimpa nasib buruk dan selalu dimanfaatkan?”, “Kenapa Engkau meninggilakanku, o Tuhan?”

Tetapi dari pertanyaannya itu tidak didasari, tidak lahir dari kebencian, kemarahan dan ketidakrelaan karena tidak mengikuti rencana, nilai-nilai moral dan logika kita, manusia. Ia muncul dari ketulusan dari dalam untuk mengekspresikan diri sembari tetap berserah dan berpaut pada-Nya.

Tetapi, tentu saja, ada juga orang-orang yang bertanya seperti itu didasari oleh kebencian dan keinginan untuk segalanya sesuai kemauannya—kesombongannya—sembari, diam-diam, merendahkan Tuhan itu sendiri. Tepat di situlah poinnya, O Tuan-tuan. O Puan-puan.



Bagaimana Menghindarinya?

Langsung saja: dengan menerima diri-Nya dan berserah pada-Nya.

Dengan mengetahui dan menyadari batasan-batasan dari kendali kita, bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa kita kendalikan, kita genggam rapat-rapat, bahwa tidak semua harus dan tidak akan kita pahami. Tidak semua harus sesuai harapan kita.

Karena kadang dan mungkin, yang kita butuhkan bukan Tuhan yang masuk akal, tapi Tuhan yang lebih besar dari akal. Bukan Tuhan yang tunduk pada logika kita, tapi Tuhan yang menuntun kita melewati logika itu.

Maka, berhentilah memberi tahu Tuhan apa yang Ia harus lakukan. Bukan karena kita tidak boleh bertanya, tapi karena untuk belajar menerima, menerima bahwa tidak segalanya ada dalam genggaman kita.

Percaya tidak harus selalu mengerti. Dalam doa yang bukan sekadar permintaan, tapi keikhlasan untuk berkata: "Aku menerimanya," seraya tersenyum, percaya bahwa hidup ini masih ada harapan. Tetapi selain itu, usaha juga perlu dan memang perlu.

 

BERHENTILAH MEMBERI TAHU TUHAN APA YANG HARUS IA LAKUKAN!





Bis später!






Komentar

Postingan populer dari blog ini

KENAPA PACARAN TIDAK HARAM?

Filsafat Bukan Kata-Kata Mutiara