Ketika Banjirnya Informasi Menjadi Sebuah Kutukan
KETIKA BANJIRNYA INFORMASI MENJADI SEBUAH KUTUKAN: BRAIN ROT DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Dahulu kala, ketika kita menginginkan suatu informasi, maka kita perlu mengeluarkan suatu pengorbanan; pergi ke perpustakaan, pergi ke warnet hanya untuk googling, mempelajari bahasa asing (bahasa Inggris terutama) karena informasi yang menggunakan bahasa Indonesia masih sangatlah terbatas kala itu.
Namun tak demikian untuk hari ini. Ketika informasi itu membanjiri kehidupan kita, maka kita tak bisa mengontrol diri; mana informasi yang relevan, penting, dan darurat untuk saya, kehidupan saya? Pertanyaan itulah yang sulit untuk kita temukan jawabannya hari-hari ini.
Ini menjadi sebuah ironi. Dan orang-orang bilang ini adalah “paradoks akan pilihan”, ketika kita bebas memilih, informasi berserakan di luar sana, dan kita menjadi tak kuasa untuk menangis karena Tuan, Puan, dan saya menjadi bingung untuk memilih yang mana untuk dipilih.
Akhir-akhir ini, dan sebetulnya lama sudah terjadi, kita disuguhkan oleh informasi yang sebetulnya banyak yang tidak kita butuhkan, yang sifatnya trivial (remeh), namun kita tetap mengonsumsinya. Karena, informasi itu datang tak diundang. Video-video pendek seperti halnya video yang ada di TikTok, reels Intagram, YouTube shorts menghadirkan informasi/isi yang kita tidak memerlukan usaha untuk mendapatkannya, sebab informasi itu datang dengan sendirinya. Bukan hanya video-video pendek, video yang sifatnya panjang pun demikian, postingan-postingan instagram, X (Twitter), dan media sosial lainnya menyuguhkan kita suatu informasi dengan sendirinya, sesuai dengan minat kita yang telah diatur oleh suatu sistem—algoritma.
Semua informasi yang Tuan-Puan konsumsi dapat memengaruhi cara pandang Tuan-Puan sekalian, dan dalam jangka panjang, membatin dalam alam bawah sadar—mengontrol kebiasaan dan refleks, memengaruhi pikiran dan perasaan, dan memberikan dorongan dalam bertindak di luar kesadaran ‘mengapa Tuan-Puan bertindak demikian?’.
Adalah tantangan umat manusia abad ini dan seterusnya untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berkembang secara eksponensial, banjirnya informasi—yang bahkan Tuan-Puan sekalian pun tak membutuhkannya.
Mengonsumsi informasi secara berlebihan, dapat berdampak negatif bagi kehidupan kita. Apalagi jika informasi itu adalah informasi dengan isi yang bersifat remeh (trivial), berkualitas rendah.
Di tulisan ini, saya akan menyajikan dampak-dampak negatifnya bagi kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari, penyebabnya, dan sepercik refleksi pribadi akan peristiwa ini.
MASYARAKAT YANG HILANG ARAH, TUJUAN, DAN ARTI
Mengonsumsi informasi yang berlebih adalah contoh sempurna ‘pengalihan’ dari masalah yang sebenarnya terpampang nyata dalam hidup kita, yang perlu kita sudahkan. Orang-orang scrolling TikTok, reels Instagram, dan media sosial lainnya tanpa henti-henti, mereka secara sadar-tak sadar sedang mengalihkan perhatian mereka.
Selain mengalihkan perhatian, mereka juga termakan dan kecanduan oleh algortima—yang mana itu dibuat untuk membuat pengguna selama mungkin menatap layar dan scrolling tanpa henti—yang membawa mereka hanyut pada dunia mereka masing-masing.
Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah, orang-orang yang menghabiskan waktu yang lama dalam scrolling itu adalah orang-orang/masyarakat yang tidak mempunyai arah tujuan hidup mereka sendiri, sehingga mereka tidak memiliki perhatian khusus untuk benar-benar menyiapkan dan memedulikan apa yang penting bagi hidup mereka; baik saat ini, atau saat nanti. Bisa saja mereka hanya menghabiskan waktu untuk melepas penat dari pekerjaan mereka. Sisanya, benar-benar penat karena tak memiliki apapun untuk dilakukan dalam hidup mereka sehingga mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk scrolling di media sosial, sebab mereka memang tidak memiliki hal yang dipedulikan dalam hidup mereka—tidak memiliki arah hidup—atau terlalu peduli akan hal-hal yang kurang atau tidak penting sama sekali—FOMO—bagi hidup mereka.
Dari nihilnya arah, tujuan, arti (yang akan dibagikan kepada orang-orang) akan eksistensi dirinya, maka mereka akan menenggelamkan diri, semacam bunuh diri secara sadar, pada pengalihan sempurna; scrolling tak henti-henti di media sosial atau apapun itu platformnya. Yang akan membuat candu.
Maka, arah, tujuan, dan arti akan eksistensi tiap individu amatlah penting. Paling tidak, itu memberikan kita untuk menghabiskan waktu pada hal-hal yang menurut kita penting, darurat, dan relevan. Sebuah pertanyaan seperti, “Apa yang akan saya berikan untuk masyarakat sebagaimana masyarakat telah memberikannya untuk saya?”, sadarlah bahwa eksistensi kita sangat bergantung pada orang lain. Orang lain bukan hanya yang masih ada sekarang melainkan juga orang-orang yang telah tiada. Mereka berjasa akan kehidupan kita saat ini, mereka membuat kita bisa hidup. Mereka yang telah membuat suatu inovasi teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan seberapa jauh apresiasi kita pada mereka dan hasil konkret dan abtrak yang mereka hasilkan? Sadarlah bahwa hidup ini bukan sekadar “Suka-suka saya!”, tidak, sekurang-kurangnya keberadaan Tuan-Puan sekalian telah mengambil jatah ruang hidup dan pasokan sumber daya orang lain.
BRIAN ROT DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Berlimpahnya informasi sana-sini, pilihan-pilihan yang tak tertandingi, pula kebebasan yang kita miliki adalah berkah-kutukan sekaligus. Kita tahu, ini adalah keinginan banyak orang untuk tahu segala hal—suatu bentuk keserakahan manusia—dan ketika kita sudah mendapatkannya. Lalu, apa?
Mengonsumsi informasi secara berlebihan dapat menimbulkan penurunan dalam hal psikis, pengambilan keputusan, dan penurunan produktivitas seseorang, bahkan organisasi. Penurunan (ganguan) psikis di antaranya adalah; ganguan kecemasan (anxiety), kelelahan (burnout), kebingungan (confusion) yang memiliki akibat langsung pada kesejahteraan hubungan tiap individu. Selain itu, media sosial menyediakan informasi-informasi itu tanpa usaha dari kita untuk mencarinya secara manual. Adapun, itu membuat kita membandingkan diri dengan orang lain, yang biasanya, akan menimbulkan perasaan pada diri sendiri bahwa diri kita kurang, menyebabkan penurunan kepercayaan diri dan harga diri bahkan frustasi.
Kelebihan informasi akan mengurangi proses sistematik seseorang dalam mengambil keputusan karena kewalahan akan informasi yang tak berguna dan menumpuk tak karuan. Ini memengaruhi kemampuan pengambilan keputusan seseorang.
Selanjutnya, kelebihan informasi membagi perhatian kita sehingga konsentrasi pada satu hal yang kita tekuni tampaknya mustahil. Ia dapat menurunkan konsentrasi dan kemampuan fokus kita. Ditambah video-video pendek yang semakin menjalar. Ini tentunya akan mengurangi tingkat produktivitas dan efisiensi kita. Apalagi, jika informasi berlebih itu adalah informasi yang receh, remeh, low quality, dan unchallenging. Bila itu terjadi, maka, seseorang, diduga akan mengalami “Brain Rot”.
Brain Rot adalah kemerosotan mental dan kemampuan kognitif seseorang sebagai hasil dari mengonsumsi berlebih material (informasi) yang dianggap memiliki kualitas rendah, remeh (trivial), dan tidak menantang (unchallenging). Istilah ini diperkenalkan sudah cukup lama oleh David Thoreu (1854) pada bukunya yang bertajuk “Walden”. Kemorosotan dalam kemampuan mental itu adalah penurunan rentang perhatian, ingatan, pemikiran kritis, dan keterampilan memecahkan masalah.
Brain-Rot menjadi salah satu istilah yang terpilih sebagai Word of the Year versi Oxford pada tahun 2024.
EPILOG
Tak selamanya menjadi sebuah kutukan, informasi-informasi ini juga dapat menjadi berkah bilamana informasi-informasi tersebut kita filtering dengan tujuan yang hendak kita capai. Bilamana Tuan-Puan memiliki tujuan yang dicapai, maka informasi sudah berserakan di luar sana, tinggal bagaimana Tuan-Puan memilahnya; mana yang relevan, penting, darurat untuk hidup Tuan-Puan.
REFERENSI
-
Mindful Health Solutions. (2023). 4 ways information overload impacts our mental health and how to cope. Retrieved from https://mindfulhealthsolutions.com/4-ways-information-overload-impacts-our-mental-health-and-how-to-cope
-
Shahrzadi, L., Mansouri, A., Alavi, M., & Shabani, A. (2024). Causes, consequences, and strategies to deal with information overload: A scoping review. ScienceDirect.
-
Alodokter. (2024). Brain rot: Lemah otak akibat kecanduan gadget. Retrieved from https://www.alodokter.com/brain-rot-lemah-otak-akibat-kecanduan-gadget
-
The Summit Wellness Group. (n.d.). What is “brain rot,” and what does it suggest about social media habits? Retrieved from https://thesummitwellnessgroup.com/blog/what-is-brain-rot
-
Maulana, Syarif (2024). Euthanasia. Jurnal Etika Terapan. Retrieved from https://jurnaletikaterapan.com/index.php/jet/article/view/euthanasia_sebuah_perdebatan

Komentar
Posting Komentar