Filsafat Bukan Kata-Kata Mutiara
Filsafat Bukan Kata-Kata Mutiara
Oleh Charles Muljadi
Di suatu pagi yang suram, saya terbangunkan oleh alarm handphone secara tak mengenakan. Saya masih di tempat tidur untuk beberapa detik, melihat langit-langit dan, akhirnya, berkata pada diri saya sendiri: “Pagi yang seperti biasanya, sangat merepotkan.” Kemudian saya bergegas mandi dan, pendeknya, saya sudah berada di sekolah, di suatu pagi di waktu istirahat pertama sekitar jam 9, bila saya tak salah ingat. Maka kemudian datanglah seorang kawan kepada saya, dia bergumam dan berkata satu-dua hal pada saya dengan gembiranya dan pada akhirnya, kalimat darinya yang saya ingat hanya: “Kata-katanya dong!” setelah ia berkata: “Filsuf,”. Dengan penuh rasa penasaran dan planga-plongo kebingungan, maka saya pun bertanya, “Kata-kata apa?” dan segera ia menjawab, “Kata-kata mutiara atau motivasi, masak ga tau, sih?” Saya akhirnya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa kebingungan. Tetapi kenapa itu terjadi pada saya?
Di satu pagi yang indah ketika itu hari libur di tahun 2023 setelah 5 hari menjalani rutinitas yang menyesakkan bagi dada saya, ketika itu Hari Sabtu, saya menulis mengenai hal yang memicu keresahan di kepala saya, baik itu fenomena sosial yang di dalamnya termasuk bagaimana cara kita berperilaku negatif pada satu-dua hal, dan satu-dua gagasan yang saya pertanyakan, lalu saya kirim tulisan itu di status WhatsApp saya. Atau, terkadang, di Instagram story saya. Dengan polos dan naifnya, saya tidak tahu bahwa tulisan saya itu di kemudian hari akan pecah menjadi gurauan sehingga kawan-kawan saya, yang tahu soal tulisan itu, kerap memanggil saya dengan sebutan, “filsuf” dan mereka kerap kali, tetapi tak sering, berkata: “Kata-katanya dong!” entah atas sebab apa.
Gejala itu ternyata tidak hanya terjadi pada batas wilayah sekolahan saja, video-video pendek yang saya, terkadang, jumpai baik di aplikasi Instagram ataupun TikTok maupun YouTube, kerap kali menampilkan hal yang serupa seperti yang terjadi dengan kawan-kawan saya di sekolah. Oleh karena itulah saya curiga bahwa gejala-gejala ini muncul dalam masyarakat secara luas, yang masih menganggap bahwa filsafat adalah atau setidaknya identik dengan kata-kata mutiara dan motivasi yang berbunga-bunga bagaikan seorang penyair yang selalu optimis akan kehidupannya.
Jika kecurigaan saya memanglah terjadi demikian di masyarakat secara luas, bukanlah suatu kemustahilan bilamana suatu hari nanti kita menemukan orang-orang yang menganggap kata-kata motivasi, kata-kata mutiara, bahkan puisi sekalipun mereka samakan dengan apa yang disebut sebagai “filsafat”. Atau suatu hari nanti, ketika Budi tak sengaja sekadar membaca kata-kata yang memukau hati, ia kemudian artikan itu sebagai “oh, ini filsafat!”. Mungkin ini terdengar sepele, tetapi, pemahaman yang seperti itu tentunya hanya akan menuntun masyarakat yang cenderung meremehkan filsafat, seolah filsafat hanyalah untaian-untaian kata-kata mutiara yang dibalut dengan diksi-diksi yang berbunga-bunga, rumit dan asing bagi para pembacanya.
Apa yang akan Anda pelajari?
Mengapa masih banyak orang yang mengartikan filsafat identik dengan kata-kata mutiara?
Apa perbedaan filsafat dengan kata-kata mutiara?
Apa penyebab terjadinya kesalahpahaman yang seperti itu?
Apa dampak yang akan ditimbulkannya?
A. Mengapa Masih Banyak Orang yang Mengartikan Filsafat Identik dengan Kata-Kata Mutiara?
Sebelumnya, apa itu filsafat? Filsafat adalah sebuah metode berpikir yang abstrak, rasional dengan mempertanyakan suatu hal-hal mendasar sampai pada akar-akarnya. Begini kira-kira, Budi pada suatu hari yang cerah sedang terduduk sendirian di suatu restoran, ia tidak sedang berbuat apapun kecuali melamun. Ketika ia sedang melamun, terlintaslah pertanyaan-pertanyaan mendasar dan, mungkin, radikal seperti, “Mengapa kita ada di dunia ini? Apa tujuan kita hidup? Mengapa saya seperti saya? Kenapa saya harus berbakti pada orang tua? Kenapa saya harus beragama? Kenapa pacaran dianggap haram? Kenapa aturan ini dibuat begini? Apa itu indah? Kenapa kita menjadi manusia? Apa yang membuat manusia dikatakan manusia? Mengapa orang-orang berbuat jahat? Apa itu kebaikan? Kenapa saya harus sekolah? Apa itu kebenaran? Apa itu apa? Kenapa Anda jelek? Mengapa seseorang disebut tampan sedangkan yang lain tidak? Kenapa Anda jelek? Apa itu Tuhan? Siapa saya? Kenapa Anda jelek? Kenapa kita bernama? Apa itu realita? Seperti apa rasanya menjadi kelalawar?” Setelah itu kemudian Budi pun hilang tanpa kabar.
Di sisi lain, filsafat juga bisa dianggap sebagai suatu bidang studi. Yaitu suatu bidang studi yang mempertanyakan dan menginvestigasi suatu penyebab-penyebab mendasar segala sesuatu, dan uniknya studi ini hanya menggunakan penalaran dan sistem logika manusia saja. Tentunya data-data juga diperlukan, tetapi dalam melakukan penelitiannya, nalar itulah yang sangat diandalkan, selain data-data itu juga perlu. Dan bidang studi ini memiliki sub-subnya tersendiri. Seperti epistimologi, estetika, etika, metafisika, filsafat ilmu, dsb. Setelah kita mengetahui itu bahwa filsafat adalah suatu bidang studi, maka penyamaan anggapan bahwa “filsafat = kata-kata mutiara” adalah suatu kesalahpahaman yang begitu menyimpang dari jalurnya.
Tetapi kenapa ini bisa terjadi?
Kita hidup dalam suatu era di mana informasi membanjiri kehidupan kita dengan sangat mudahnya bagaikan air yang mengalir deras dan memasuki ke segala penjuru yang mudahnya. Baik itu informasi yang valid, sesuai fakta, ilmiah, saintifik, maupun yang sifatnya remeh, eceh-eceh, omong kosong, sampah, tidak valid, serampangan, dan tentunya hoaks. Semua itu dengan mudahnya kita dapatkan. Dengan bantuan algoritma (seperti yang sudah saya bahas dalam tulisan saya yang sebelumnya yang berjudul “Bagaimana Banjirnya Informasi Menjadi Sebuah Kutukan?”), ini bisa menjadi pisau bermata dua; kutukan dan berkah sekaligus.
Tentunya, informasi-informasi ini tidak datang begitu saja, ini dapat diperantarai oleh media-media yang ada, atau oleh akun-akun individu yang memang salah mengartikan apa itu filsafat dan ia menyebarluaskan pemahamannya itu pada publik pada Instagram, Facebook, YouTube, TikTok, dsb. Itu hal yang agaknya lumrah bagi negara yang menganut sistem demokrasi. Pemahaman yang salah dari individu tadi, yang kita sebut saya ia “Budi”, dan penyebarluasannya pada media-media publik dapat memengaruhi opini-opini dan pehaman publik pula. Apalagi bila si Budi ini adalah seorang yang sangat terkenal dan berpengaruh di masyarakatnya. Apalagi bila si Budi ini adalah seorang ahli agama, mungkin saja segala apa yang ia ucapkan dan tuliskan pada publik akan dipercaya begitu saja. Dan tentunya, ia akan sangat mudah menggiring opini publik. Tentu saja, ini adalah konsekuensi dari negara-bangsa yang menganut sistem demokrasi. Tetapi, kenapa si Budi bisa salah paham dan dengan percaya dirinya menyebarluaskan pemahamannya itu?
Ada kemungkinan bahwa si Budi tercinta kita ini sedang dalam permasalahan psikologis. Seperti ia merasa angkuh dan lebih mampu dari yang lain sehingga ia dengan percaya diri dan bangga menyebarluaskan pemahamannya itu.
Tetapi kemungkinan lain tetaplah mungkin terjadi.
Seperti ketika si Budi sedang nongki-nongki dengan kawan-kawannya dan seorang kawan bernama Ucup berkata satu-dua hal, yang kita anggap saja sebagai kata-kata mutiara, tentang kehidupan. Lalu terlontarlah sebuah kata, “Filsuf,” dari si Budi ini kepada si Ucup sebagai gurauan antar tongkrongan saja. Tetapi, gejala ini terjadi bukan hanya pada si Budi dan tongkrongannya. Ini juga terjadi pada tongkrongan lain secara bersamaan di waktu dan tempat yang tidak sama. Ketika gurauan itu sering dilontarkan, diucapkan dan dianggap biasa saja, maka opini publik pun secara sadar maupun tak sadar tercipta. Dan menghasilkan masyarakat yang mengartikan filsafat dengan pemahaman yang demikian.
Pelabelan yang dilakukan Budi pada Ucup memanglah, pada awalnya, tidak bermaksud jahat, hanya sekadar gurauan. Tetapi pelabelan ini juga terjadi bukan hanya pada Budi satu ini saja, tetapi terjadi pada Budi di belahan wilayah, plosokan, daerah dalam waktu yang berbeda-beda. Sehingga orang-orang seolah menganggap yang demikian itu sebagai suatu “kebenaran”.
Ada juga kemungkinan bahwa itu bisa terjadi bila ada yang menganggap remeh filsafat karena lagi-lagi kesalahpahamannya akan filsafat itu sendiri dan kemudian ia ‘mengajarkan’ pemahamannya itu pada ‘murid-muridnya’ bahwa, ia bilang, “Filsafat itu hanya untaian kata yang dibungkus dengan gula dan permen!” “Tak ada gunannya belajar filsafat!” lanjutnya. Yang akhirnya menggiring opini publik untuk menganggap bahwa filsafat itu demikian.
Memang terdapat sejumlah orang yang kemudian hari berkata-kata ‘indah’ ketika sedang berdialog, tetapi, itu digunakan dalam rangka sebagai metafora yang kesannya puitis.
Seperti yang dapat Anda lihat saya hanya menggunakan berbagai kemungkinan, karena saya tidak mengobservasi secara empiris layaknya seorang saintis. Kekeliruan yang ditimbulkan akan sangat mungkin terjadi. Dan kemungkinan orang-orang yang seperti saya ini pula yang dapat menyebabkan kesalahpahaman mengenai filsafat itu sendiri. Saya akui itu.
B. Apa Dampak yang Akan Ditimbulkannya?
Pemahaman bahwa “filsafat = kata-kata mutiara/motivasi” akan menyebabkan kecenderungan orang-orang untuk menganggap remeh filsafat. Baik secara bidang studi maupun berfilsafat itu sendiri, walaupun, berfilsafat kecil kemungkinan tidak dapat dihindari dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita bertanya, misalnya, “Kenapa kita lebih mementingkan nilai daripada hasil konkret dalam mempelajari sesuatu? Kenapa, sih saya harus pergi ke sekolah, jika di sekolah saya sendiri tidak diajarkan apapun kecuali ilmu dan pengetahuan yang tidak relevan dengan hidup saya? Kenapa, sih orang-orang suka bergosip? Kenapa, sih kita, Anda dan saya, bertanya?” Ketika Anda, Tuan Puan sekalian, sudah bertanya demikian, itu tandanya Tuan Puan sekalian sudah dalam tahap awal dalam berfilsafat, yaitu BERTANYA.
Ketika bertanya saja sudah diremehkan, maka apa jadinya jika terdapat suatu informasi yang serampangan dan kita memercayainya begitu saja? Ketika bertanya saja sudah diremehkan, bagaimana kita akan mendapatkan pengetahuan dan kemudian mengembangkannya? Bagaimana bisa kita menentang suatu pemerintahan otoriter dengan hanya patuh dan iya-iya saja tanpa dengan awalan BERTANYA?
Pelabelan “filsuf” secara sembarangan oleh si Budi ini memanglah hal yang receh, tetapi bisa saja menimbulkan persepsi orang-orang bahwa seseorang yang dikatakan “filsuf” adalah mereka yang ketika berbicara dipenuhi oleh kue-kue manis, bunga-bunga mawar dan melati, dipenuhi oleh kata “sunyi” dan “rindu” seperti dalam puisi Indonesia akhir-akhir ini. Tentu saja, itu akan membawa kita pada sebuah kekaburan makna yang sebenarnya. Menjauhkan kita dari esensinya. Dibohongi oleh diri kita sendiri.
Metafora, puitis, dan indah.
Filsafat acap kali bisa dihadirkan melalui sastra yang gaya bahasanya amat sastrawi. Ia bisa muncul dalam bentuk yang kacau, indah, sejuk, atau bahkan kaku. Filsafat bisa hadir lewat metafora-metafora, untaian kata puitis, atau dialog yang penuh simbol. Tapi itu tidak berarti filsafat adalah kata-kata mutiara, atau apa yang kita sebut sebagai 'kata-kata indah'.
Jika masyarakat menganggapnya demikian, setidaknya akan mengakibatkan:
1. Kegiatan merenung, berdiskusi, dan belajar filsafat dianggap tidak penting, terlalu "ngawang", atau tidak praktis. Karena sudah terlanjur dianggap sebagai "tukang kata-kata mutiara" sebagai bumbu manis dalam berinteraksi.
2. Karena sudah seperti itu, orang-orang sudah terjebak dalam pandangan keliru dan menyimpang dari apa yang dimaksud filsafat itu sendiri.
Simpulan
Pemahaman (kesalahpahaman) bahwa “filsafat = kata-kata mutiara/motivasi” belaka bisa terjadi karena pengaruh dari asumsi dan/atau tafsir dari seorang individu, katakanlah ia “Budi”, yang berawal dari ketidakkritisannya. Atau bisa juga dari gurauan yang bermaksud untuk mencairkan suasana, tetapi, lambat laun itu menjadi sebuah kenormalan dan akhirnya menggiring pemahaman bahwa, “filsafat = kata-kata mutiara/motivasi”.
Dampak yang akan ditimbulkannya juga tidak sepele, di kemudian hari orang-orang yang masih beranggapan demikian akan cenderung meremehkan bidang studi filsafat atau berfilsafat itu sendiri. Yang mana, mungkin saja, di satu waktu mereka pun berfilsafat tanpa mereka sadari. Orang-orang yang hendak menanyakan hal-hal mendasar tentang kehidupan, misalnya, menjadi malu-malu kucing untuk melakukan itu karena persepsi masyarakat yang demikian tadi. Orang-orang yang hendak mempertanyakan suatu gagasan, misalnya, bermetamorfosa menjadi daun bunga putri malu.
DAFTAR PUSTAKA
1. Cariaga, Rujonel F. (2023). The Basic Concepts of Philosophy. https://www.researchgate.net/publication/376350415
Komentar
Posting Komentar