PACARAN:
SEBUAH KONSEP DAN PRAKTIK SOSIAL
YANG KERAP DISALAHPAHAMI
OLEH KEBANYAKAN ORANG
Oleh Charles Muljadi
Ini adalah sebuah tulisan esai santai mengenai perspektif dan pemahaman saya soal konsep pacaran.
LATAR BELAKANG
Akhir-akhir ini, saya mencoba mengamati sebuah aktivitas yang—dalam pandangan saya—sia-sia, kerap dilakukan oleh kalangan remaja baik di media sosial maupun di lingkungan sekitar. Dari pengamatan itu, saya menemukan bahwa ada yang janggal dari suatu jenis hubungan yang, alih-alih sehat, justru terasa seperti racun yang menjangkiti kita semua. Hubungan yang saya maksud ialah: pacaran/berpacaran.
Tadinya, saya tidak memiliki niat untuk membagikan apa yang saya pahami tentang pacaran. Namun, setelah menyaksikan fenomena ini begitu dekat, dalam lingkungan yang saya tinggali dan yang secara langsung memengaruhi pertumbuhan saya, maka saya merasa perlu menuliskannya. Perlu diingat, Tuan Puan sekalian, bahwa ini hanyalah sebuah argumentasi. Bukan kebenaran, apalagi kebenaran mutlak.
Suatu sore, seorang teman menyatakan pada saya bahwa "berpacaran itu haram." Ketika saya bertanya alasannya, dia menjawab: "Itu zina atau mendekati zina." Saya kemudian bertanya lagi: "Zina atau mendekati zinanya di mana?" Lalu ia menjawab: "Karena menurut Al-Qur’an begitu."
Saya pun pulang ke rumah, bertanya pada teman lain, dan jawabannya kurang lebih serupa: "Itu haram, dan sudah jelas dalilnya pada Surat Al-Isra ayat 32." Ia pun menulis:
"Menurutku, pacaran adalah status atau kegiatan untuk memuaskan hasrat dan menyalurkan cinta kepada lawan jenis. Dalam Islam tentu itu haram. Dalilnya Al-Isra:32—mendekatinya saja sudah haram, apalagi melakukannya. Hubungan sebelum menikah hanya kesenangan tanpa kepastian, sekadar memenuhi hasrat hati. Jika hati menginginkan sesuatu, hanya Allah dan dirinya sendiri yang bisa menghentikannya. Keinginan untuk pacaran tidak akan puas sampai lawan jenisnya terasa tak berarti lagi. Maka rata-rata pacaran gagal menuju pernikahan. Kalaupun berhasil, cintanya sudah habis dipakai saat pacaran, dan ini berdampak buruk pada masa depan keluarga."
Demikianlah pemikiran salah seorang teman saya.
Saya pun mencoba ‘merumuskan’ pola. Ketika seorang laki-laki dan perempuan berjalan bersama di jalanan yang separuh sepi dan penuh sampah plastik, sambil mendeklarasikan bahwa mereka ‘berpacaran’, saya menduga bahwa yang terjadi adalah bentuk lain dari “pacaran sebagai barang berkepemilikan.” Mereka seakan menandatangani diktat janji:
1. Tidak boleh selingkuh (alias harus setia)
2. Anda adalah milikku
3. Harus nurut
Melalui tulisan ini, saya ingin menyodorkan sebuah konsepsi anyar soal pacaran. Mungkin terdengar berani, karena saya mencoba melewati sekat-sekat dogma, kerangkeng doktrin, dan badai gelap penilaian moral. Maka inilah sekapur sirihnya.
PEMBAHASAN
Saya memulai dari definisi:
Pacaran adalah menjalankan suatu hubungan sosio-romantis antara dua orang (secara umum), baik lelaki-perempuan, lelaki-lelaki, atau perempuan-perempuan, dengan tujuan saling mengenal dan memahami lebih dalam untuk persiapan bertunangan, menikah, atau berpartner hidup tanpa dilembagakan.
Tentu definisi ini terdengar belibet tanpa penjelasan lebih lanjut. Misalnya:
Apa maksudnya ‘secara umum’?
Istilah ini saya gunakan untuk menyebut hal yang lebih sering terjadi—lebih dominan di masyarakat. Ketika saya menulis “secara umum orang dominan dengan tangan kanan”, itu bukan berarti semua orang, melainkan kebanyakan. Maka dalam konteks pacaran, pasangan lelaki-perempuan adalah bentuk paling lazim.
Lalu apa maksud ‘lebih dalam’?
Bayangkan Tuan Puan bertemu seseorang yang asing. Impresi pertama mungkin muncul, tetapi belum tentu benar. Seiring waktu, saat hubungan tumbuh lebih ‘intim’—sebagai teman dekat atau pacar—Tuan Puan baru bisa memahami kompleksitas orang tersebut. Inilah makna ‘mengenal lebih dalam’: melihat lebih dari permukaan, melihat manusia sebagaimana adanya—dengan segala kerumitan dan kekurangannya.
Dalam konteks ini, pacaran dimaksudkan sebagai ruang aman untuk saling memahami. Dan hubungan ini dapat dijalani tanpa mendekati zina.
Hal-hal romantis yang tidak zina:
1. Menjadi pendengar yang baik, tidak menghakimi, dan tidak memberi nasihat jika tidak tahu persoalan.
2. Menjadi pengingat atas hal kecil, seperti soal membuang sampah—bukan sebagai hakim, tapi teman.
3. Menjadi motivasi hidup; keberadaan pasangan dapat memberi semangat untuk tetap hidup dan bermanfaat.
MENGAPA DIANGGAP HARAM?
Saya menduga, anggapan pacaran itu haram muncul karena banyak orang melihat praktik pacaran yang menyimpang—yang memang menjurus pada zina: bersentuhan tanpa batas, menimbulkan rangsangan seksual, hingga perbuatan cabul. Wajar jika orang menilai pacaran sebagai ‘zina’ berdasarkan realitas seperti itu.
Namun, konsep pacaran itu sendiri bukanlah zina.
Yang menjadikan zina adalah niat dan perbuatan, bukan hubungannya.
Misalnya: apakah berpegangan tangan itu zina?
Bisa iya, bisa tidak. Jika pegangan tangan itu dimaksudkan untuk menimbulkan syahwat dan kebablasan, maka ya. Tapi jika tidak, maka tidak. Semua bergantung pada subjektivitas dan niat kedua pihak.
Lantas, kalau di pelajaran olahraga kita bergandengan tangan untuk membentuk lingkaran, apakah itu zina juga? Tentu tidak sesederhana itu.
TENTANG CINTA
Teman saya berkata: “Menyalurkan cinta kepada lawan jenis itu dilarang.”
Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar: Apa itu cinta?
Cinta adalah perasaan kasih, keinginan untuk memberi, untuk hadir bagi orang lain—bahkan kepada mereka yang kita anggap jahat. Dalam konteks romantis, cinta itu kita khususkan kepada seseorang—pasangan kita. Maka, mengapa cinta harus dilarang?
Apakah memandang lawan jenis itu zina? Belum tentu.
Apakah tatapannya cabul? Apakah ada maksud tertentu? Atau hanya sekadar tatapan lewat? Lagi-lagi, niat dan persepsi menjadi kunci.
PACARAN SEBAGAI PENGHUBUNG ZINA?
Pacaran bisa menjadi penghubung ke zina, jika disertai perbuatan yang menjurus ke sana. Tapi begitu pula dengan pertemanan. Apakah karena itu kita harus melarang semua bentuk relasi? Tentu tidak.
Yang salah adalah tindakan merangsang dan menyentuh tanpa batas—bukan status pacaran itu sendiri.
BARANG BERKEPEMILIKAN
Hanya karena sedang berpacaran, bukan berarti seseorang adalah milik Anda.
Pacaran bukan perjanjian kepemilikan. Ini bukan: “Karena saya pacaran dengan Anda, maka Anda milik saya.”
Ini adalah bentuk kesalahpahaman yang bisa berujung tragis. Berapa banyak yang kehilangan nyawa hanya karena merasa ‘pacarnya diambil orang’?
Komitmen dalam pacaran penting, tapi bukan untuk menjadi ‘hak milik’.
Lebih tepat jika dikatakan:
“Aku dan engkau menjalin hubungan ini sebagai persiapan untuk hidup bersama. Maka mari saling jujur dan setia demi tujuan itu.”
Namun, kalimat seperti ini pun tak perlu selalu diucapkan—cukup dipraktikkan.
PACARAN SEBAGAI PENILAIAN (PANTAS/TIDAK PANTAS)
Pacaran adalah ruang untuk menilai:
“Apakah orang ini pantas hidup bersamaku?”
Jika ya → lanjutkan.
Jika tidak → akhiri, dan mungkin kembali berteman.
Atau → bantu perbaiki dirinya, lalu tunggu dan lihat.
Jika pasangan kita berpacaran dengan orang lain, biarkan. Ia berhak menilai siapa yang lebih cocok. Pacaran bukan kontrak kepemilikan. Maka, ketika seseorang cemburu karena ‘pacarnya’ dekat dengan orang lain, lalu berkata “itu milikku!” — berarti dia gagal memahami inti dari pacaran.
PACARAN YANG SEHAT
Ingat: pacaran tidak sama dengan pernikahan.
Maka, dalam pacaran, tidak ada istilah ‘selingkuh’ secara hukum atau agama. Yang ada hanyalah bentuk pengkhianatan atas kepercayaan. Dan kepercayaan, bisa dibangun, bisa juga hilang.
Bis später!
kok ga up lgi bg
BalasHapus